INTERAKSI FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DALAM EKOSISTEM SAWAH YANG MENDUKUNG PERTUMBUHAN PADI (Oryza sativa L.)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam usaha budidaya padi harus diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara ekologi, baik faktor biotik dan abiotik di lingkungan tumbuh tanaman tersebut. Pertanaman padi sawah adalah monokultur, selain itu terdapat beberapa flora dan fauna di sekitar pertanaman yang akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Baik mikrofauna dalam tanah, mesofauna, makrofauna dan vegetasi (gulma) yang ada di sekitar persawahan.

Antara  individu  yang  satu  dengan  lainnya  dalam  satu  daerah  akan membentuk populasi. Selanjutnya, antara populasi yang satu dengan yang lainnya dalam  satu  daerah  akan  terjadi  interaksi  membentuk  komunitas dan komunitas  ini  juga  akan  selalu  beriteraksi  dengan  tempat  hidupnya. Misalnya rumput hidup di  tanah, belalang hidup di  rerumputan, dan  ikan hidup di air. Hubungan  antara  makhluk  hidup  dengan  lingkungannya  akan  membentuk ekosistem. Kumpulan ekosistem di dunia akan membentuk biosfer. Urutan satuan-satuan makhluk hidup dalam ekosistem dari yang kecil sampai yang besar adalah sebagai berikut:

(http//irsae.files.wordpress.com/2008/05/satuan-dalam-ekosistem.pdf. Diakses tanggal 11 April 2009).

Sawah merupakan suatu sistem budaya  tanaman yang khas dilihat dari sudut

kekhususan pertanaman yaitu padi,  penyiapan tanah, pengelolaan air dan dampaknya atas lingkungan. Maka sawah perlu diperhatikan  secara khusus dalam penatagunaan lahan. Meskipun di lahan sawah dapat diadakan pergiliran berbagai tanaman, namun pertanaman pokok selalu padi. Jadi, kalau kita berbicara tentang sawah pokok pembicaraannya tentu produksi padi dan beras.

Penyiapan tanah sawah meyebabkan sifat-sifat fisik, kimia, biologi dan morfologi tanah berubah, keadaan tanah alami berubah menjadi keadaan tanah buatan dan menyimpang dari keadaan yang dikehendaki oleh pertanaman yang lain. Untuk dapat melaksanakan pergiliran tanaman dengan pertanaman lain, biasanya palawija, maka sehabis pertanaman padi keadaan tanah harus diubah kembali sehingga sesuai dengan yang diperlukan pertanaman palawija. Pengubahan keadaan tanah secara bolak-balik berarti memanipulasi sumber daya tanah secara mendalam, guna tanah, tata guna air, dan tata guna lingkungan, sehingga dapat menghambat  pencapaian kemaslahatan penggunaan lahan yang berkelanjutan (Notohadiprawiro, 2006).

Selanjutnya Notohadiprawiro (2006) menyatakan bahwa keanekaragaman hayati pertanian Indonesia sangat besar. Hal ini memberikan peluang besar memilih macam pertanaman yang sesuai untuk tiap wilayah ekologi yang ada di Indonesia. Dengan demikian pertanian Indonesia kalau dapat dikembangkan secara merata berpotensi besar menjadi piranti handal dalam tataguna lahan. Di wilayah Indonesia manapun pertanian dapat dibangun dengan konsep agroekosistem karena didukung oleh keanekaan hayati pertanian Indonesia yang sangat besar. Konsep agroekosistem membuat pertanian suatu sistem produksi biomassa berguna yang efektif secara teknologi, efisien secara ekonomi, dan berkelanjutan menurut wawasan lingkungan.

selengkapnya…klik disini!

1 Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s