APLIKASI KURVA RESPON DALAM BERBAGAI BIDANG

REVIEW

Kurva respon adalah suatu cara yang digunakan untuk menentukan batas kritis, titik optimal dan maksimal suatu erlakuan yang dapat diukur secara kuantitatif, sehingga dapat diketahui kebutuhan yang tepat dari suatu perlakuan.

Penggunaan kurva respon dalam penelitian telah diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan seperti : bidang pertanian, kedokteran, teknik kimia, MIPA dan lain-lain. Beberapa contoh penggunaan kurva respon yaitu :

  1. Bidang Pertanian

Dalam penelitian di bidang pertanian salah satu contoh penggunaan kurva respon untuk “Penetapan Pupuk Kalium Berdasarkan Kurva Respon serta Nisbah Kalsium-Kalium dan Magnesium-Kalium untuk Padi Sawah di Jawa Timur” Oleh M. Al Jabri. Balai Penelitian Tanah, Bogor. Tujuan penelitian tersebut adalah menetapkan kebutuhan pupuk K yang ditetapkan berdasarkan turunan pertama persamaan kuadratik dari kurva respon K yang diprediksi dari hasil analisis tanah berdasarkan nisbah Ca/K, Mg/K dan persen kejenuhan kation-kation basa tersebut.

Selain itu penggunaan kurva respon pada penelitian “Penentuan Kebutuhan Pokok Unsur Hara N,P,K untuk Pertumbuhan Tanaman Panili” oleh Agus Ruhnyat. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kebutuhan pokok hara dengan menentukan nilai kritis, kecukupan, optimal dan kelebihan unsur hara N,P,K untuk pertumbuhan panili.

2.  Bidang Kedokteran

Dalam bidang kedokteran kurva respon digunakan dalam penelitian “Mikronuklei sebagai  Dosimetri Biologi” yang dilaporkan oleh Yanti Lusiana dan Adul Wa’id. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keselamatan dan Biomedika Nuklir, Batan. Dosimetri Biologi adalah satu teknik pengujian dengan parameter biologik yang bertujuan untuk memperkirakan dosis serap radiasi pengion berdasarkan kerusakan yang terjadi pada sistem biologi.

Frekuensi disentrik dalam sel limfosit darah perifer digunakan untuk dosimetri biologi dalam menduga dosis serap seseorang yang terkena paparan pada kasus kedaruratan nuklir. Mikronuklei adalah salah satu bentuk indikator kerusakan kromosom pada sel darah limfosit perifer yang disebabkan oleh paparan radiasi pengion.

Dalam evaluasi frekuensi mikronuklei yang diperoleh Lloyd et al dalam Prosser dengan menggunakan kurva respon dosis aberasi disentrik dan mikronuklei limfosit yang diinduksi sinar X menunjukkan pola yang hampir sama yaitu kuadratik.

3. Bidang Farmasi

Di bidang farmasi kurva respon digunakan dalam penelitian “Penetapan  kadar  sefadroxil  secara  spektrofotometri  visibel  menggunakan  pereaksi  etil asetoasetat dan formaldehid.” Oleh Ratna Asmah Susidarti , Andrih Rianti dan Sudibyo Martono. Bagian Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Pemeriksaan mutu  obat  mutlak  diperlukan  agar  obat  dapat sampai  pada  titik  tangkapnya  dengan  kadar yang  tepat,  sehingga  dapat  memberikan  efek terapi  yang  dikehendaki. Dengan menggunakan metode  spektrofotometri  visibel  sebagai  alternatif untuk  menentukan  kadar  sefadroksil  dalam  sediaan  farmasi.  Metode  ini didasarkan pada terbentuknya produk berwarna kuning (λmaks 367 nm) dari reaksi antara sefadroksil dengan hasil kondensasi 2 mol etil asetoasetat dan 1 mol  formaldehid  dalam  suasana  asam  (pH  3,5)  pada  45°C  selama  20 menit.  Kadar sefadroksil dihitung menggunakan kurva baku Y = 1,6063 X + 0,1634,  r  =  0,9932,  p  =  0,001  dan  Vxo  =  9,7%.  Hasil  aplikasi  metode tersebut  untuk  penentuan  kadar  sefadroksil  dalam  kapsul  sefadroksil  ”X” dengan  bobot  rata-rata  isi  562,4  mg/kapsul  diperoleh  kadar  sefadroksil 490,5  mg/kapsul  dengan  CV  =  0,89%  dan  perolehan  kembali  102,88% (CV = 0,67%).

4. Bidang MIPA (Kimia)

Dalam bidang Kimia (MIPA) kurva respon juga digunakan dalam penelitian “Penentuan Ion Cu(II) dalam Sampel Air Secara Spektrofotometri Berbasis Reagen Kering TAR/PVC.” Penelitian ini dilakukan oleh Dwi Imaratul Solecha dan Bambang Kuswandi pada Jurusan Kimia FMIPA Universitas Jember.

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa secara kuantitatif keberadaan logam berat Cu dalam bahan makanan, minuman dan bahan lainnya untuk mencegah toksisitas pada makhluk hidup dan lingkungan. Batas maksimal Cu dalam lingkungan adalah 1 ppm.

Metode     analisis     kuantitatif     yang     dapat dilakukan adalah sensor  kimia  berbasis  reagen kering yang dideteksi secara spektrofotometer. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum yaitu 5 mL larutan ion Cu(II) 10 ppm dengan bufer 7

dimasukkan  ke  dalam  kuvet.  Untuk  analisis logam,  dimasukkan  reagen  kering  ke  dalam kuvet  yang  terdapat  larutan  diatas.  Larutan didiamkan  selama  30  menit,  kemudian  diukur absorbansinya dengan spektronik Genesys pada panjang    gelombang    400-700    nm    dengan interval  3  nm.  Untuk  larutan  blanko,  reagen

kering dimasukkan ke dalam kuvet yang berisi buffer  pH  7  kemudian  diukur  absorbansinya. Dibuat   kurva   hubungan   absorbansi   dengan panjang gelombang.

Penentuan   optimasi   pH    dilakukan    seperti prosedur     penentuan     panjang     gelombang maksimum, tetapi dengan membuat variasi pH antara 4-9 pada panjang gelombang maksimum tersebut.  Selanjutnya  dibuat  kurva  hubungan absorbansi dengan pH.

5. Metrologi Radiasi

PENERAPAN EFEK INTERAKSI RADIASI  DENGAN SISTEM BIOLOGI  SEBAGAI DOSIMETER BIOLOGI YANTI LUSIYANTI, MUKH SYAIFUDIN.

Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN

Jl Lebak Bulus Raya No 49

Jakarta 12070 Telp (021) 7513906

download versi pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s