TEKNIK PEMULIAAN PADI (Oryza sativa L.) HIBRIDA DAN TIPE BARU MELALUI PENYERBUKAN SILANG

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Padi merupakan komoditi utama sebagai makanan pokok rakyat Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatan hasil padi adalah dengan penanaman varietas hibrida, seperti yang diungkapkan oleh Nugraha, dkk (2004) bahwa saat ini di Indonesia mulai menerapkan teknologi padi hibrida secara komersial. Padi hibrida yang berkembang di Indonesia berasal dari galur-galur tetua hasil introduksi. Dengan demikian perlu dirakit varietas padi hibrida dengan menggunakan galur padi hasil pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) yang telah beradaptasi baik di Indonesia. Galur-galur tersebut perlu diidentifikasi sebelum digunakan sebagai tetua padi hibrida dengan cara diuji silang.

Di Indonesia padi hibrida yang berkembang berasal dari galur-galur tetua introduksi baik yang dihasilkan oleh institusi pemerintah maupun swasta.  Secara umum varietas atau galur introduksi lebih peka terhadap perubahan kondisi lingkungan terutama hama penyakit sehingga hasilnya lebih berfluktuasi dan tidak stabil. Dengan demikian perlu dirakit varietas padi hibrida yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Hal dapat dilakukan dengan menggunakan varietas atau galur yang telah beradapsi di Indonesia sebagai bahan genetik. Bahan genetik tersebut berupa varietas unggul dan galur-galur yang dihasilkan dalam program pemuliaan padi konvensional (inbrida).

Untuk membentuk padi hibrida diperlukan penggunaan galur mandul jantan dalam persilangan. Galur mandul jantan yang paling banyak digunakan di beberapa negara yang mengembangkan padi hibrida adalah galur mandul jantan sitoplasmik (cytoplasmic male-sterile line) atau disebut juga sistem tiga galur karena melibatkan tiga galur tetua dalam persilangan, masing-masing galur mandul jantan sitoplasmik, galur pemulih kesuburan dan galur pemelihara mandul jantan (Yuan, 1998 dalam Nugraha, 2004).  Selain padi hibrida saat ini dikembangkan padi tipe baru (PTB) yang dihasilkan melalui persilangan antara padi jenis indica dengan japonica. Potensi hasil PTB 10-25% tebih tinggi dibandingkan dengan varietas unggul yang ada saat ini (Las, dkk., 2003).

Pemuliaan tanaman memainkan peranan sangat penting dalam pembangunan dan penguatan system pertanian lokal, serta dalam perlindungan keanekaragaman genetik.  Tanpa partisipasi petani program pemuliaan untuk keperluan lokal tidak akan mencapai sasaran. Dipercaya bahwa pemuliaan berbasis partisipasi pengguna memiliki kelebihan mendasar, seperti definisi kriteria seleksi yang sesuai untuk kebutuhan lokal dan kesesuaian dengan lingkungan target yang lebih baik. (Elings et al., 2001) dalam Sobir (2005).

Konsumen yang harus dilayani dalam sebuah program pemuliaan tanaman merupakan konsumen bertingkat mulai dari petani, distributor,  pengecer dan konsumen sebagai pengguna produk akhir sehingga untuk dapat hasil yang memuaskan maka semua konsumen tersebut perlu dilibatkan.

selengkapnya… klik disini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s